
Nama anak itu Anna.
Empat huruf yang sering disebut ayahnya dengan nada tinggi, seolah namanya adalah kesalahan pertama yang pernah ada.
Nilai segini aja?”
Ayahnya berdiri di ambang pintu kamar, rapor di tangan. Alisnya berkerut, bukan karena kaget, tapi kecewa.
Nilai Anna 78. KKM sekolahnya 75. Secara aturan, dia aman, secara rumah, dia gagal.
“KKM itu batas minimum,” kata ayahnya dingin. “Bukan target.”
Anna diam, dia sudah hafal diam adalah cara paling aman. Menjawab berarti melawan, melawan berarti hukuman.
Sejak ibunya pergi atau tepatnya, sejak ibunya memilih pergi, rumah itu kehilangan suara tawa. Yang tersisa cuma suara jam dinding dan langkah kaki ayahnya yang berat. Ayahnya berubah jadi satu-satunya aturan hidup, belajar, nilai tinggi, jangan salah, jangan nangis.
Anna kelas dua SMA. Usianya harusnya penuh cerita remaja, tapi hidupnya cuma soal buku, tugas, dan ketakutan.
Kalau salah sedikit, bentakan datang lebih dulu. Kalau itu belum cukup, tangan ayahnya menyusul. Nggak pernah pakai alat, tapi cukup keras buat ninggalin rasa sakit yang lama hilangnya.
Abangnya, Arka, sering ada di rumah. Dia kuliah tingkat akhir. Orangnya baik, tapi gengsi. Selalu bilang, “Sabar ya, Na. Ayah kita emang keras, tapi dia mau yang terbaik.”
Anna ingin teriak, terbaik versi siapa?
Tapi Arka juga korban, dia cuma menutup lukanya lebih rapi.
Malam-malam Anna diisi belajar sampai mata perih. Kalau ketahuan tidur sebelum jam sepuluh, ayahnya marah. Kalau nilainya turun, ayahnya bilang dia malas. Kalau dia capek, ayahnya bilang hidup nggak ada yang gampang.
Anna mulai percaya satu hal, dirinya memang nggak pernah cukup.
Di sekolah, dia pendiam. Duduk di bangku tengah, nilai bagus, nggak banyak teman. Guru suka dia. Teman sekelas menganggapnya aneh terlalu serius, terlalu kaku.
Satu-satunya tempat Anna bisa bernapas cuma halte bus dekat sekolah. Di sana, dia sering duduk sore hari, pura-pura nunggu bus yang sebenarnya nggak pernah dia naiki.
Sampai suatu hari, suara motor memecah sunyi. Motor besar, knalpotnya kasar. Seorang pria berhenti nggak jauh dari halte. Jaket hitam, emblem geng motor di punggungnya. Wajahnya galak. Rahangnya tegas, tatapannya dingin.
Anna refleks menunduk, orang seperti itu biasanya cuma masalah. Tapi pria itu nggak pergi. Dia turun dari motor, duduk di pembatas jalan, nyalain rokok.
“Lo nunggu siapa?” tanyanya tiba-tiba.
Suaranya rendah. Bukan bentakan, tapi bikin Anna kaget.
“Nggak… nunggu siapa-siapa,” jawab Anna pelan.
Pria itu melirik. “Terus ngapain duduk di sini tiap sore?”
Anna terdiam, dia nggak sadar sering diperhatiin.
“Ngumpet,” katanya jujur tanpa mikir.
Pria itu ketawa kecil. Nggak mengejek, lebih ke heran. “Dari apa?”
Anna nggak jawab.
Sejak hari itu, pria itu sering muncul. Namanya Keano. Anggota geng motor, reputasinya buruk, tapi entah kenapa, ke Anna dia nggak pernah kasar.
Keano nggak banyak tanya. Dia cuma duduk, kadang ngasih Anna minum, kadang cuma nemenin diam.
“Lo kelihatan capek terus” kata Keano.
Anna tersenyum kecil. “Emang.”
“Capek sekolah?”
“Capek hidup.”
Keano nggak ketawa, dia cuma angguk pelan, seolah paham.
Suatu malam, ANNA pulang dengan nilai matematika 74. Satu poin di bawah KKM.
Ayahnya ngamuk, bentakan, kursi bergeser. Tamparan mendarat sekali cukup buat bikin ANNA jatuh terduduk.
“Percuma saya punya anak! dasar ga berguna, soal segampang ini aja nilai nya masi kurang” teriak ayahnya.
Anna lari ke kamar, ngunci pintu, dan nangis tanpa suara. Dadanya sesak. Kepalanya penuh satu pikiran pergi.
Dia keluar rumah malam itu, jaket tipis, tas kecil, kakinya otomatis melangkah ke halte.
Keano ada di sana.
Dia langsung berdiri begitu lihat wajah Anna yang pucat dan mata bengkak.
“Kenapa?” suaranya berubah serius.
Anna nggak kuat lagi. Dia cerita semuanya. Tentang ayahnya, tentang pukulan, tentang tuntutan sempurna yang bikin dia hancur.
Keano diam. Rahangnya mengeras.
“Lo nggak pantas dapet itu,” katanya pelan tapi tegas.
Annatertawa pahit. “Kata siapa?”
“Kata gue.”
Malam itu bukan malam kabur yang dramatis seperti di film. Nggak ada teriakan, nggak ada kejar-kejaran. Hanya Anna yang berdiri di depan rumahnya dengan tas kecil di punggung dan dada yang gemetar.
Keano menunggu di ujung gang, motor menyala pelan. Begitu Anna mendekat, Keano langsung berdiri.
“Lo yakin?” tanyanya.
Anna menoleh sekali ke rumah itu. Rumah yang katanya tempat pulang, tapi tak pernah memberi rasa aman. Lampunya menyala, tirainya tertutup. Di dalam sana, ayahnya mungkin sedang menonton TV, seolah tak pernah mematahkan hati anaknya sendiri.
Anna mengangguk. “Kalau gue di sini terus, gue bakal hancur.”
Keano nggak banyak bicara. Dia cuma ngasih helm, lalu berkata pelan, “Naik.”
Motor melaju meninggalkan gang sempit itu. Angin malam menusuk, tapi untuk pertama kalinya, Anna nggak merasa dingin. Ada rasa takut, iya. Tapi lebih besar dari itu, lega.
Mereka berhenti di kota sebelah. Rumah kecil milik teman Keano yang jarang dipakai, sederhana. Cat dindingnya mengelupas, tapi pintunya selalu terbuka.
Hari-hari pertama, Anna sering bangun dengan kaget. Mimpi buruk tentang bentakan ayahnya masih datang. Tapi setiap kali itu terjadi, Keano ada bukan dengan kata-kata manis, cuma secangkir teh hangat dan kehadiran yang tenang.
“Lo aman di sini,” katanya suatu pagi.
Anna mulai sekolah lagi. Nilainya masih bagus, tapi kali ini dia belajar karena mau, bukan karena takut. Dia tertawa lebih sering. Tidurnya lebih nyenyak.
Keano tetap Keano yang galak ke dunia, tapi lembut ke Anna, dia berhenti dari geng motor, pelan-pelan. Demi hidup yang lebih tenang.
Suatu sore, Anna duduk di teras, matahari jatuh perlahan.
“Kean” katanya.
“Hm?”
“Makasih… udah percaya sama gue, waktu gue sendiri aja nggak percaya.”
Keano menoleh, tersenyum kecil. “Lo cuma butuh tempat buat bernapas.”
Anna tersenyum, untuk pertama kalinya tanpa rasa bersalah.
Dia memang terlahir dari rumah yang retak. Tapi dia memilih membangun rumah baru bukan dari tembok, melainkan dari rasa aman. Dan di sana, Anna akhirnya hidup, bukan sempurna, tapi bahagia.




