Author: Nazifa Zahra

  • Not Enough for Home

    Not Enough for Home

    Nama anak itu Anna.
    Empat huruf yang sering disebut ayahnya dengan nada tinggi, seolah namanya adalah kesalahan pertama yang pernah ada.

    Nilai segini aja?”
    Ayahnya berdiri di ambang pintu kamar, rapor di tangan. Alisnya berkerut, bukan karena kaget, tapi kecewa.

    Nilai Anna 78. KKM sekolahnya 75. Secara aturan, dia aman, secara rumah, dia gagal.

    “KKM itu batas minimum,” kata ayahnya dingin. “Bukan target.”

    Anna diam, dia sudah hafal diam adalah cara paling aman. Menjawab berarti melawan, melawan berarti hukuman.

    Sejak ibunya pergi atau tepatnya, sejak ibunya memilih pergi, rumah itu kehilangan suara tawa. Yang tersisa cuma suara jam dinding dan langkah kaki ayahnya yang berat. Ayahnya berubah jadi satu-satunya aturan hidup, belajar, nilai tinggi, jangan salah, jangan nangis.

    Anna kelas dua SMA. Usianya harusnya penuh cerita remaja, tapi hidupnya cuma soal buku, tugas, dan ketakutan.
    Kalau salah sedikit, bentakan datang lebih dulu. Kalau itu belum cukup, tangan ayahnya menyusul. Nggak pernah pakai alat, tapi cukup keras buat ninggalin rasa sakit yang lama hilangnya.

    Abangnya, Arka, sering ada di rumah. Dia kuliah tingkat akhir. Orangnya baik, tapi gengsi. Selalu bilang, “Sabar ya, Na. Ayah kita emang keras, tapi dia mau yang terbaik.”

    Anna ingin teriak, terbaik versi siapa?
    Tapi Arka juga korban, dia cuma menutup lukanya lebih rapi.

    Malam-malam Anna diisi belajar sampai mata perih. Kalau ketahuan tidur sebelum jam sepuluh, ayahnya marah. Kalau nilainya turun, ayahnya bilang dia malas. Kalau dia capek, ayahnya bilang hidup nggak ada yang gampang.

    Anna mulai percaya satu hal, dirinya memang nggak pernah cukup.

    Di sekolah, dia pendiam. Duduk di bangku tengah, nilai bagus, nggak banyak teman. Guru suka dia. Teman sekelas menganggapnya aneh terlalu serius, terlalu kaku.

    Satu-satunya tempat Anna bisa bernapas cuma halte bus dekat sekolah. Di sana, dia sering duduk sore hari, pura-pura nunggu bus yang sebenarnya nggak pernah dia naiki.

    Sampai suatu hari, suara motor memecah sunyi. Motor besar, knalpotnya kasar. Seorang pria berhenti nggak jauh dari halte. Jaket hitam, emblem geng motor di punggungnya. Wajahnya galak. Rahangnya tegas, tatapannya dingin.

    Anna refleks menunduk, orang seperti itu biasanya cuma masalah. Tapi pria itu nggak pergi. Dia turun dari motor, duduk di pembatas jalan, nyalain rokok.

    “Lo nunggu siapa?” tanyanya tiba-tiba.

    Suaranya rendah. Bukan bentakan, tapi bikin Anna kaget.

    “Nggak… nunggu siapa-siapa,” jawab Anna pelan.

    Pria itu melirik. “Terus ngapain duduk di sini tiap sore?”

    Anna terdiam, dia nggak sadar sering diperhatiin.

    “Ngumpet,” katanya jujur tanpa mikir.

    Pria itu ketawa kecil. Nggak mengejek, lebih ke heran. “Dari apa?”

    Anna nggak jawab.
    Sejak hari itu, pria itu sering muncul. Namanya Keano. Anggota geng motor, reputasinya buruk, tapi entah kenapa, ke Anna dia nggak pernah kasar.
    Keano nggak banyak tanya. Dia cuma duduk, kadang ngasih Anna minum, kadang cuma nemenin diam.

    “Lo kelihatan capek terus” kata Keano.

    Anna tersenyum kecil. “Emang.”

    “Capek sekolah?”

    “Capek hidup.”

    Keano nggak ketawa, dia cuma angguk pelan, seolah paham.

    Suatu malam, ANNA pulang dengan nilai matematika 74. Satu poin di bawah KKM.
    Ayahnya ngamuk, bentakan, kursi bergeser. Tamparan mendarat sekali cukup buat bikin ANNA jatuh terduduk.

    “Percuma saya punya anak! dasar ga berguna, soal segampang ini aja nilai nya masi kurang” teriak ayahnya.

    Anna lari ke kamar, ngunci pintu, dan nangis tanpa suara. Dadanya sesak. Kepalanya penuh satu pikiran pergi.

    Dia keluar rumah malam itu, jaket tipis, tas kecil, kakinya otomatis melangkah ke halte.

    Keano ada di sana.

    Dia langsung berdiri begitu lihat wajah Anna yang pucat dan mata bengkak.
    “Kenapa?” suaranya berubah serius.

    Anna nggak kuat lagi. Dia cerita semuanya. Tentang ayahnya, tentang pukulan, tentang tuntutan sempurna yang bikin dia hancur.

    Keano diam. Rahangnya mengeras.
    “Lo nggak pantas dapet itu,” katanya pelan tapi tegas.

    Annatertawa pahit. “Kata siapa?”

    “Kata gue.”

    Malam itu bukan malam kabur yang dramatis seperti di film. Nggak ada teriakan, nggak ada kejar-kejaran. Hanya Anna yang berdiri di depan rumahnya dengan tas kecil di punggung dan dada yang gemetar.

    Keano menunggu di ujung gang, motor menyala pelan. Begitu Anna mendekat, Keano langsung berdiri.

    “Lo yakin?” tanyanya.

    Anna menoleh sekali ke rumah itu. Rumah yang katanya tempat pulang, tapi tak pernah memberi rasa aman. Lampunya menyala, tirainya tertutup. Di dalam sana, ayahnya mungkin sedang menonton TV, seolah tak pernah mematahkan hati anaknya sendiri.

    Anna mengangguk. “Kalau gue di sini terus, gue bakal hancur.”

    Keano nggak banyak bicara. Dia cuma ngasih helm, lalu berkata pelan, “Naik.”
    Motor melaju meninggalkan gang sempit itu. Angin malam menusuk, tapi untuk pertama kalinya, Anna nggak merasa dingin. Ada rasa takut, iya. Tapi lebih besar dari itu, lega.

    Mereka berhenti di kota sebelah. Rumah kecil milik teman Keano yang jarang dipakai, sederhana. Cat dindingnya mengelupas, tapi pintunya selalu terbuka.

    Hari-hari pertama, Anna sering bangun dengan kaget. Mimpi buruk tentang bentakan ayahnya masih datang. Tapi setiap kali itu terjadi, Keano ada bukan dengan kata-kata manis, cuma secangkir teh hangat dan kehadiran yang tenang.

    “Lo aman di sini,” katanya suatu pagi.

    Anna mulai sekolah lagi. Nilainya masih bagus, tapi kali ini dia belajar karena mau, bukan karena takut. Dia tertawa lebih sering. Tidurnya lebih nyenyak.

    Keano tetap Keano yang galak ke dunia, tapi lembut ke Anna, dia berhenti dari geng motor, pelan-pelan. Demi hidup yang lebih tenang.

    Suatu sore, Anna duduk di teras, matahari jatuh perlahan.

    “Kean” katanya.

    “Hm?”

    “Makasih… udah percaya sama gue, waktu gue sendiri aja nggak percaya.”

    Keano menoleh, tersenyum kecil. “Lo cuma butuh tempat buat bernapas.”

    Anna tersenyum, untuk pertama kalinya tanpa rasa bersalah.

    Dia memang terlahir dari rumah yang retak. Tapi dia memilih membangun rumah baru bukan dari tembok, melainkan dari rasa aman. Dan di sana, Anna akhirnya hidup, bukan sempurna, tapi bahagia.

  • Ketukan Ketiga

    Ketukan Ketiga

    Malam itu hujan turun tanpa suara.
    Naya sadar setelah melihat kaca jendelanya penuh titik air. Padahal dari tadi dia belajar, gak dengar angin, gak ada petir, bahkan gak ada bunyi rintik yang biasanya bikin tenang.
    Rumah terasa sepi banget.
    Mama dan papa lagi pergi ke luar kota sejak sore. Sebelum berangkat mereka sudah bilang berkali-kali supaya Naya kunci semua pintu dan jangan bukakan untuk siapa pun.
    Jam di dinding menunjukkan 22.47.
    Naya menutup bukunya, meregangkan badan, lalu mematikan lampu meja. Baru aja mau naik ke kasur, tiba-tiba terdengar suara.

    Tok.

    Naya langsung diam.
    Itu dari pintu depan.
    Dia menunggu, mencoba mikir positif. Mungkin cuma suara kayu rumah yang kena lembap. Rumah tua memang sering bunyi macam-macam kalau malam.
    Beberapa detik sunyi.
    Lalu terdengar lagi.

    Tok.

    Sekarang lebih jelas. Seperti orang mengetuk pelan.
    Jantung Naya mulai berdetak cepat.
    “Siapa sih malam-malam begini…” gumamnya, padahal gak ada yang dengar.
    Dia ambil ponsel, cek pesan. Gak ada apa-apa dari mama papa. Grup keluarga juga sepi.

    Mungkin tetangga? Tapi kenapa gak manggil namanya aja?
    Naya turun dari kasur dan membuka pintu kamar. Lorong rumah gelap. Lampu ruang tamu mati. Cuma ada sedikit cahaya dari luar.
    Dia melangkah pelan.
    Belum sampai tengah lorong—

    Tok.
    (Ketukan ketiga)

    Lalu sesuatu bikin badan Naya dingin.
    Ada yang memanggil dari balik pintu.

    “Naya…”

    Suaranya pelan. Serak. Dekat banget seperti di telinga.
    Naya berhenti bernapas.
    Itu suara mama.
    Mirip banget.

    “Naya, buka pintunya… mama pulang…”

    Naya hampir nangis karena lega. Dia maju beberapa langkah, tapi langsung berhenti.
    Gak mungkin.
    Mama lagi di luar kota. Kalau pulang pun pasti telepon dulu.
    Dan suara mama gak pernah sekecil itu.

    “Naya… dingin…”

    Tangan Naya gemetar. Dia sudah berdiri tepat di depan pintu. Tinggal buka kunci.
    Tapi kenapa mama gak pakai kunci cadangan?
    Kenapa cuma berdiri di luar?
    Dan kenapa… gak ada suara hujan sama sekali?
    Naya akhirnya mengintip lewat lubang pintu.

    Gelap.
    Seperti lampu teras mati. Padahal tadi sore dia yakin lampunya nyala.

    “Naya… mama tau kamu lihat…”

    Naya langsung mundur.

    Sekarang suaranya dekat banget, seolah mukanya nempel di pintu.
    Tiba-tiba gagang pintu bergerak.

    Krek…
    Padahal masih terkunci.

    “Naya… kenapa dikunci?”

    Air mata Naya jatuh. Dia mau lari tapi kakinya berat.
    Tiba-tiba ponselnya bergetar.
    Mama menelepon.
    Dengan tangan gemetar dia angkat.

    “Halo, Ma…?”
    “Naya? Kamu belum tidur kan?” suara mama normal banget, ada suara mobil juga. “Mama sama papa masih di jalan, mungkin sampai rumah besok pagi.”
    Naya gak bisa jawab.
    “Naya? Kamu kenapa?”
    Pelan-pelan Naya melihat ke bawah.
    Di celah pintu ada bayangan hitam.
    Seperti seseorang berdiri di sana.

    Menunggu.

    “Ma… ada yang manggil aku… pakai suara mama…” bisik Naya.
    Di sana hening sebentar.
    Lalu mama berkata, tegang, “Sayang, jangan buka pintu. Apa pun yang kamu dengar, jangan buka.”
    Tiba-tiba—

    BRAK!
    “NAYA!”

    Itu bukan suara mama.
    Berat, dalam, marah.
    Lampu ruang tamu langsung mati.
    Bayangannya hilang.
    Dan dari belakang Naya—
    ada bisikan.

    “Naya… aku sudah di dalam.”

    Naya kaku.
    Dia mau menoleh tapi takut.
    Kalau itu sudah masuk, berarti dari awal dia cuma mau Naya membuka pintu.
    Seperti butuh izin.

    “Naya…”

    Sekarang suara itu ada di ruang tamu. Seperti langkah kaki diseret.
    Dengan takut-takut Naya melihat.
    Ada sesuatu tinggi banget dekat saklar lampu. Badannya kurus panjang, kepalanya miring, seperti bingung.

    “Naya… kenapa gak dibukakan?”

    Masih pakai suara mama.
    Tapi sekarang Naya sadar.
    Dari tadi dia cuma minta.
    Gak pernah benar-benar masuk.
    Mungkin cuma Naya yang bisa membiarkannya.
    Naya langsung mundur sambil pegang ponsel. “Ma… aku ke kamar… aku kunci…”

    “Iya! Cepat!” kata mamanya panik.
    Makhluk itu bergerak cepat. Bayangannya seperti merayap di dinding.

    “Naya…”

    Suaranya jadi banyak, numpuk.
    Naya lari ke kamar, banting pintu, kunci, lalu dorong meja ke depan pintu.
    Di luar langsung sunyi.
    Beberapa saat kemudian terdengar suara goresan panjang di pintu.

    “Mama tau kamu takut… buka aja…”
    Naya tutup telinganya.
    “Aku gak akan buka… aku gak akan buka…”
    Dia menangis sampai akhirnya tertidur.
    Pagi hari, suara mobil datang.

    “Naya!”

    Mama.
    Kali ini benar-benar mama.
    Naya keluar kamar pelan. Rumah kelihatan normal.
    Mama langsung peluk dia.
    “Kamu lihat apa semalam?” tanya papa.
    Naya mau jawab, tapi dia melihat pintu depan.
    Ada tiga bekas hitam seperti terbakar.
    Di pintu kamarnya juga ada goresan panjang.

    Berarti itu nyata.

    Sebelum keluar rumah, Naya menoleh ke lorong.
    Di dekat saklar lampu, sesuatu yang tinggi berdiri diam.
    Melihatnya.
    Kepalanya miring pelan.
    Lampu mati.
    Saat nyala lagi, sudah gak ada apa-apa.
    Tapi Naya tau.
    Kadang, di malam yang terlalu sepi…
    dia masih dengar suara

    Tok

  • ARSEAN & ALLINE

    ARSEAN & ALLINE

    Di SMA Nusantara, semua orang tau kalo Arsean dan Alline tidak pernah cocok bahkan sejak hari pertama.

    Arsean dikenal sebagai siswa pindahan yang terlalu tenang untuk ukuran cowok SMA. Tidak berisik, tidak sok populer, dan selalu duduk di baris paling belakang. Sementara Alline adalah kebalikannya jujur, keras kepala, dan tidak suka orang yang sok misterius.

    Masalah mereka dimulai dari hal sepele, satu kursi kosong.

    “Eh, itu bangku gua, minggir lo.” kata Alline sambil berdiri di samping meja baris belakang.

    Arsean ngangkat kepala sebentar.

    “Nama lo ngga ada di situ.” jawab Arsean singkat.

    Nada datarnya bikin Alline langsung panas.
    Sejak saat itu, mereka resmi masuk daftar orang yang saling males liat satu sama lain.

    Di kelas, Arsean diem.
    Alline ribut.
    Di mata Alline, Arsean itu nyebelin, dingin, jawab seadanya, dan selalu kelihatan seolah semua hal ngga penting.

    Di mata Arsean, Alline itu cerewet, gampang emosi, dan terlalu cepat ngejudge.

    “Lo tuh sombong, ngeselin pula.” kata Alline suatu hari waktu mereka satu kelompok.

    Arsean ngga langsung jawab. “Gua cuma ngga suka ribut.”

    “Ngga semua orang diem itu dewasa.” balas Alline ketus.

    Sejak itu, kerja kelompok mereka selalu tegang. Ngga ada teriakan. Ngga ada drama besar. Cuma dingin, kaya dua orang yang saling bertahan di ruangan sempit. Sampai suatu sore, hujan bikin sekolah hampir kosong.

    Alline duduk sendirian di kelas, nunggu jemputan.
    Arsean masih di sana, ngerjain tugas.

    “Lo belum pulang?” tanya Alline akhirnya.

    “Belum,” jawab Arsean. “Hujan.”
    Hening.

    “Jujur ya.” Arsean ngomong tanpa liat Alline. “kenapa sih lo selalu kesel sama gua?”

    Alline kaget, tapi jawab jujur.

    “Karena lo keliatan kaya orang yang ngga peduli sama apa pun, gua benci orang kaya gitu.”

    Arsean nutup bukunya. “Atau mungkin… udah lah gua cuma cape jelasin diri ke orang yang udah mutusin buat benci duluan.” Kalimat itu nusuk.

    Sejak hari itu, Alline mulai sadar Arsean bukan cuek, dia cuma nggak suka pamer rasa.

    Mereka mulai ngobrol, tentang tugas, tentang guru, tentang hal-hal kecil. Dan tanpa sadar, Alline mulai nunggu momen duduk sebangku sama Arsean.
    Mulai nyari Arsean di kelas.
    Mulai kesel kalau Arsean ngga masuk.

    Arsean juga berubah.
    Dia mulai senyum kalau Alline ngomel.
    Mulai nanya kabar.
    Mulai peduli lebih dari yang dia rencanakan.

    Sampai suatu hari, Alline bilang,
    “Lucu ya, dulu gua benci banget sama lo.”

    Arsean senyum kecil. “Sekarang?”

    “Sekarang… gua bingung.”

    Beberapa hari kemudian, hujan turun lagi,
    mereka duduk di taman sekolah.

    “Lin.” kata Arsean pelan, “gua mau jujur.”

    Alline nengok. “Kenapa?”

    “Gua suka sama lo.”

    Alline diam.

    “Dari pertama kita debat, dari tiap lo marah, dari tiap lo tetep duduk di samping gua walau bisa pindah,” lanjut Arsean.
    “Gua sadar… gua ngga pengen jauh dari lo.”

    Alline narik napas.

    “Gua juga suka sama lo, Sean. Gua cuma takut… ternyata gua sendirian.”

    Arsean geleng. “Ngga, gua di sini.”

    “Jadi kita apa?” tanya Alline.

    Arsean senyum, yakin.
    “Pacaran, kalo lo mau.”

    Alline senyum balik. “Gua mau.”

    Di SMA itu, mereka tetap sering debat.
    Tetap keras kepala.
    Tapi sekarang, mereka tau kebencian itu cuma salah paham yang terlalu lama dipelihara.
    Dan cinta datang bukan karena cocok sejak awal, tapi karena mau bertahan cukup lama untuk saling ngerti.

    TAMAT.