ARSEAN & ALLINE

Di SMA Nusantara, semua orang tau kalo Arsean dan Alline tidak pernah cocok bahkan sejak hari pertama.

Arsean dikenal sebagai siswa pindahan yang terlalu tenang untuk ukuran cowok SMA. Tidak berisik, tidak sok populer, dan selalu duduk di baris paling belakang. Sementara Alline adalah kebalikannya jujur, keras kepala, dan tidak suka orang yang sok misterius.

Masalah mereka dimulai dari hal sepele, satu kursi kosong.

“Eh, itu bangku gua, minggir lo.” kata Alline sambil berdiri di samping meja baris belakang.

Arsean ngangkat kepala sebentar.

“Nama lo ngga ada di situ.” jawab Arsean singkat.

Nada datarnya bikin Alline langsung panas.
Sejak saat itu, mereka resmi masuk daftar orang yang saling males liat satu sama lain.

Di kelas, Arsean diem.
Alline ribut.
Di mata Alline, Arsean itu nyebelin, dingin, jawab seadanya, dan selalu kelihatan seolah semua hal ngga penting.

Di mata Arsean, Alline itu cerewet, gampang emosi, dan terlalu cepat ngejudge.

“Lo tuh sombong, ngeselin pula.” kata Alline suatu hari waktu mereka satu kelompok.

Arsean ngga langsung jawab. “Gua cuma ngga suka ribut.”

“Ngga semua orang diem itu dewasa.” balas Alline ketus.

Sejak itu, kerja kelompok mereka selalu tegang. Ngga ada teriakan. Ngga ada drama besar. Cuma dingin, kaya dua orang yang saling bertahan di ruangan sempit. Sampai suatu sore, hujan bikin sekolah hampir kosong.

Alline duduk sendirian di kelas, nunggu jemputan.
Arsean masih di sana, ngerjain tugas.

“Lo belum pulang?” tanya Alline akhirnya.

“Belum,” jawab Arsean. “Hujan.”
Hening.

“Jujur ya.” Arsean ngomong tanpa liat Alline. “kenapa sih lo selalu kesel sama gua?”

Alline kaget, tapi jawab jujur.

“Karena lo keliatan kaya orang yang ngga peduli sama apa pun, gua benci orang kaya gitu.”

Arsean nutup bukunya. “Atau mungkin… udah lah gua cuma cape jelasin diri ke orang yang udah mutusin buat benci duluan.” Kalimat itu nusuk.

Sejak hari itu, Alline mulai sadar Arsean bukan cuek, dia cuma nggak suka pamer rasa.

Mereka mulai ngobrol, tentang tugas, tentang guru, tentang hal-hal kecil. Dan tanpa sadar, Alline mulai nunggu momen duduk sebangku sama Arsean.
Mulai nyari Arsean di kelas.
Mulai kesel kalau Arsean ngga masuk.

Arsean juga berubah.
Dia mulai senyum kalau Alline ngomel.
Mulai nanya kabar.
Mulai peduli lebih dari yang dia rencanakan.

Sampai suatu hari, Alline bilang,
“Lucu ya, dulu gua benci banget sama lo.”

Arsean senyum kecil. “Sekarang?”

“Sekarang… gua bingung.”

Beberapa hari kemudian, hujan turun lagi,
mereka duduk di taman sekolah.

“Lin.” kata Arsean pelan, “gua mau jujur.”

Alline nengok. “Kenapa?”

“Gua suka sama lo.”

Alline diam.

“Dari pertama kita debat, dari tiap lo marah, dari tiap lo tetep duduk di samping gua walau bisa pindah,” lanjut Arsean.
“Gua sadar… gua ngga pengen jauh dari lo.”

Alline narik napas.

“Gua juga suka sama lo, Sean. Gua cuma takut… ternyata gua sendirian.”

Arsean geleng. “Ngga, gua di sini.”

“Jadi kita apa?” tanya Alline.

Arsean senyum, yakin.
“Pacaran, kalo lo mau.”

Alline senyum balik. “Gua mau.”

Di SMA itu, mereka tetap sering debat.
Tetap keras kepala.
Tapi sekarang, mereka tau kebencian itu cuma salah paham yang terlalu lama dipelihara.
Dan cinta datang bukan karena cocok sejak awal, tapi karena mau bertahan cukup lama untuk saling ngerti.

TAMAT.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *